Taiwan mulai memasuki babak baru dalam pengembangan teknologi antariksa. Selama bertahun-tahun, kemampuan Taiwan lebih dikenal pada pengembangan satelit, elektronika, semikonduktor dan teknologi pertahanan, sementara kemampuan membuat roket peluncur orbital sendiri masih tertinggal jauh dari China. Kini Taipei berusaha membangun kemampuan tersebut secara bertahap.
Salah satu gambaran paling jelas terlihat pada uji roket di Pangkalan Jiupeng, Pingtung, pada 19 Agustus 2026. Roket pembawa satelit yang dikembangkan Taiwan mengalami anomali tidak lama setelah lepas landas dan menyimpang dari lintasan yang direncanakan. Karena alasan keselamatan, operator mengaktifkan sistem penghancuran mandiri.
Kegagalan itu sebenarnya bukan berarti Taiwan tidak mampu membuat roket. Justru pengujian seperti ini menunjukkan bahwa Taiwan sedang memasuki fase yang selama ini lebih dikuasai negara-negara besar, yakni menguasai teknologi peluncuran dari dalam negeri. Data telemetri dari penerbangan tersebut akan digunakan untuk memperbaiki desain dan sistem roket berikutnya.
Yang menarik, Taiwan ternyata tidak hanya mengembangkan satu jalur roket. Taiwan Space Agency atau TASA juga menjalankan program roket nasional yang ditujukan untuk membangun kemampuan mengirim satelit sendiri ke orbit rendah Bumi. Program tersebut dimulai pada 2023 dan ditargetkan mencapai kemampuan peluncuran orbital mandiri pada 2034.
Pada 22 Agustus 2026, hanya beberapa hari setelah insiden roket NCSIST, TASA berhasil melakukan penerbangan uji roket wahana antariksa bernama MARAHO. Roket yang sebelumnya dikenal sebagai SR400 itu berhasil melakukan penyalaan, penerbangan, komunikasi dan pembukaan parasut sesuai rencana.
MARAHO memang bukan roket orbital. Panjangnya sekitar 7,2 meter dengan diameter 0,4 meter dan menggunakan sistem propulsi hibrida berbahan 90 persen hidrogen peroksida dan polypropylene. Penerbangan tersebut mencapai ketinggian sekitar 8,1 kilometer dan menjadi sarana untuk menguji berbagai teknologi sebelum Taiwan beralih ke roket yang jauh lebih besar.
Tahapan itu menunjukkan strategi Taiwan yang cukup hati-hati. TASA berencana menggunakan roket uji suborbital generasi pertama pada 2029, generasi kedua pada 2031, kemudian melakukan uji roket orbital pertamanya pada 2034. Sasaran akhirnya adalah membawa muatan sekitar 200 kilogram ke orbit rendah Bumi.
Roket orbital yang direncanakan TASA memiliki panjang sekitar 25 sampai 28 meter, berat lepas landas sekitar 50 ton dan dirancang untuk mencapai orbit sekitar 500 sampai 600 kilometer. Konfigurasinya merupakan roket dua tahap dengan mesin berbahan bakar oksigen cair dan minyak tanah.
Dari sini terlihat betapa panjang jalan yang harus ditempuh Taiwan. Ketika Taiwan baru berusaha membuktikan teknologi roket dan menargetkan kemampuan orbital pada 2034, China sudah mempunyai pengalaman puluhan tahun dalam peluncuran satelit, penerbangan manusia, eksplorasi Bulan, stasiun antariksa dan pengembangan roket komersial.
Kesenjangan itu semakin terlihat pada perkembangan teknologi roket yang dapat digunakan kembali. Pada Juli 2026, China berhasil melakukan pemulihan terkendali tahap pertama Long March-10B menggunakan metode penangkapan dengan jaring di platform laut. Peristiwa itu menjadi keberhasilan pertama China dalam pemulihan terkendali roket pembawa dan sekaligus menunjukkan bahwa teknologi reusable mulai masuk ke tahap operasional.
Hanya beberapa pekan kemudian, perusahaan China LandSpace mencapai tonggak lain. Zhuque-3 berhasil membawa tahap pertamanya kembali dan mendaratkannya di darat menggunakan kaki pendaratan. Teknologi tersebut membawa China semakin dekat dengan model peluncuran berulang yang sebelumnya sangat identik dengan perusahaan-perusahaan Amerika seperti SpaceX dan Blue Origin.
Perbedaan kecepatannya cukup mencolok. Zhuque-3 bahkan dirancang sebagai roket besar dengan panjang 66,1 meter, menggunakan sembilan mesin metana-oksigen cair pada tahap pertama dan memiliki kapasitas hingga sekitar 14,2 ton ke orbit rendah dalam konfigurasi sekali jalan. LandSpace menargetkan booster tersebut dapat digunakan kembali hingga 20 kali.
China juga tidak hanya mengandalkan perusahaan negara. Sektor antariksa komersialnya berkembang dengan munculnya perusahaan roket swasta, produsen satelit dan perusahaan konstelasi. Kajian CSIS pada 2026 mencatat pertumbuhan cepat ekosistem antariksa komersial China, termasuk roket reusable, mega-konstelasi, pabrik satelit dan kawasan industri antariksa.
Karena itu, posisi Taiwan sebenarnya bukan sedang berkompetisi dengan China pada titik yang sama. Taiwan masih berusaha membangun fondasi kemampuan peluncuran orbital, sedangkan China sudah memasuki tahap berikutnya, yaitu menekan biaya peluncuran, meningkatkan frekuensi penerbangan dan membuat sistem roket yang dapat digunakan berulang kali.
Namun Taiwan mempunyai modal yang sangat berbeda. Kekuatan utamanya berada pada semikonduktor, elektronika, sensor, komunikasi, komputer, material presisi dan manufaktur berteknologi tinggi. Kemampuan tersebut sangat relevan bagi industri antariksa modern karena roket hanyalah satu bagian dari ekosistem yang jauh lebih besar.
Itulah sebabnya strategi Taiwan tidak harus meniru China dalam segala hal. Taipei dapat membangun keunggulan pada satelit kecil, elektronika antariksa, sensor, sistem komunikasi, penginderaan jauh dan komponen presisi, sembari secara perlahan mengembangkan mesin serta kendaraan peluncurnya sendiri.
Program TASA bahkan secara eksplisit dirancang untuk membangun rantai pasok domestik. Pemerintah Taiwan ingin melibatkan universitas, lembaga penelitian dan industri dalam pengembangan sistem propulsi, navigasi, avionik, struktur dan berbagai komponen roket.
Targetnya juga bukan sekadar gengsi memiliki roket nasional. Taiwan ingin mengurangi ketergantungan terhadap negara lain dalam meluncurkan satelit. TASA menyebut kemampuan peluncuran mandiri sebagai bagian dari upaya memperkuat otonomi antariksa sekaligus menciptakan industri baru dan pasar peluncuran internasional.
Dalam konteks geopolitik, kemampuan tersebut mempunyai arti strategis. Satelit semakin penting untuk komunikasi, navigasi, pemantauan bencana, cuaca, pertanian, keamanan maritim dan pertahanan. Negara yang sepenuhnya bergantung pada negara lain untuk meluncurkan satelit akan memiliki ketergantungan strategis yang lebih besar.
Soal reusable, roket Taiwan yang diuji NCSIST pada Agustus 2026 belum menunjukkan indikasi kuat bahwa ia dirancang sebagai kendaraan peluncur yang dapat digunakan kembali. Tidak terlihat adanya sistem pemulihan tahap pertama seperti yang sedang dikembangkan China. Bahkan dalam uji tersebut, ketika terjadi penyimpangan lintasan, sistem penghancuran mandiri justru digunakan untuk menjaga keselamatan.
Namun perjalanan Taiwan menuju antariksa baru saja dimulai. MARAHO, program roket suborbital, pengembangan mesin cair, penguasaan avionik dan target roket orbital 2034 merupakan tahapan untuk mengubah Taiwan dari negara yang kuat dalam membuat komponen teknologi menjadi negara yang mampu mengintegrasikan seluruh sistem peluncuran.
Dengan demikian, kegagalan roket pada Agustus 2026 tidak semestinya hanya dilihat sebagai kegagalan teknologi. Dalam perspektif yang lebih panjang, peristiwa itu merupakan bagian dari proses belajar yang harus dilalui Taiwan untuk mengejar ketertinggalannya. Tantangan sebenarnya adalah apakah Taipei mampu mempertahankan investasi, membangun SDM dan industri, serta mengubah keunggulan semikonduktor dan elektronika menjadi kekuatan antariksa yang utuh.
Sementara China sudah bergerak menuju era peluncuran berbiaya rendah, frekuensi tinggi dan roket reusable, Taiwan baru membangun jalan menuju kemampuan peluncuran orbital mandiri. Jaraknya memang masih sangat jauh, tetapi perlombaan antariksa Taiwan tidak lagi berada pada tahap wacana. Dengan target 2034 dan pengujian yang terus dilakukan, Taipei sedang berusaha memastikan bahwa di masa depan Taiwan bukan hanya pembuat teknologi untuk dunia, tetapi juga mampu membawa teknologinya sendiri ke luar angkasa.







Tidak ada komentar:
Write komentar