PKK Diperkirakan akan Tetap Eksis di Suriah dengan Dukungan Aktor Luar
Gencatan senjata antara pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang diumumkan beberapa waktu lalu kini kembali dipertanyakan efektivitasnya. Di lapangan, berbagai laporan menunjukkan bahwa pelanggaran terus terjadi, menandakan situasi keamanan masih jauh dari stabil.
Pernyataan terbaru dari unsur operasional militer Suriah menegaskan bahwa kesepakatan penghentian tembakan telah dilanggar secara berulang. Pelanggaran tersebut dinilai sebagai eskalasi serius yang mengancam seluruh proses deeskalasi yang telah disepakati sebelumnya.
Menurut sumber militer Suriah, SDF yang didominasi unsur PKK dituduh terus melakukan aksi-aksi bersenjata terhadap warga sipil dan tentara pemerintah. Tindakan ini dianggap mencerminkan keengganan kelompok tersebut untuk menghormati komitmen gencatan senjata.
Di Provinsi Hasakah, situasi menjadi sorotan utama. Sejak malam sebelumnya, terjadi serangkaian insiden berdarah, termasuk serangan artileri dan penggunaan pesawat nirawak bermuatan bahan peledak.
Salah satu insiden paling fatal dilaporkan terjadi di Kota Hasakah, ketika sebuah peternakan kuda di kawasan permukiman diserang. Serangan itu menewaskan delapan warga sipil, memperdalam luka sosial di wilayah yang mayoritas dihuni komunitas Arab.
Selain serangan terhadap warga sipil, laporan juga menyebutkan adanya gelombang penangkapan massal oleh PKK. Puluhan pemuda dari suku-suku Arab ditangkap di beberapa lingkungan di Hasakah dan Qamishli, disertai kekerasan fisik dan penghinaan.
Militer Suriah juga mengonfirmasi korban di pihaknya. Sebuah pesawat nirawak bunuh diri dilaporkan menyerang fasilitas militer di Al-Yarubiyah, menewaskan tujuh prajurit dan melukai sejumlah lainnya.
Di wilayah pedesaan Ain al-Arab, penembakan artileri kembali terjadi. Beberapa sasaran militer pemerintah dilaporkan dihantam serangan udara tak berawak, menandakan meningkatnya intensitas konfrontasi.
Selain itu, pemerintah Suriah menuduh adanya pergerakan lintas batas. Ratusan pejuang PKK dari wilayah Kurdistan Irak disebut telah masuk ke Suriah, memperkuat posisi SDF di beberapa titik strategis.
Perkembangan ini memperkecil harapan akan pembubaran SDF maupun PKK. Wacana integrasi kelompok tersebut ke dalam Kementerian Pertahanan atau Kementerian Dalam Negeri Suriah dinilai semakin tidak realistis.
Hingga kini, tidak terlihat adanya sinyal politik dari pimpinan SDF, Mazloum Abdi, untuk menerima peran formal dalam struktur pemerintahan Suriah. Dinamika di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya.
Pengamat menilai Provinsi Hasakah berpotensi mengikuti pola yang pernah terjadi di Aleppo pada fase awal runtuhnya arejim Bahsar Al Assad di wilayah tersebut. Kantong-kantong SDF saat itu tetap bertahan meski belakangan pemerintah Ahmed Al Sharaa berupaya memperluas kontrolnya.
Di Aleppo, skenario serupa berujung pada bertahannya satu kantong Kurdi di Kobane, sementara wilayah lain kembali ke kendali pemerintah. Pola ini kini dikhawatirkan terulang di timur laut Suriah.
Sementara itu, informasi mengenai dialog di balik layar antara Damaskus dan SDF masih sangat terbatas. Tidak ada indikasi kuat bahwa pembicaraan substantif sedang berlangsung.
Posisi pemerintah Suriah dinilai terikat oleh kepentingan aktor-aktor eksternal. Tekanan dari luar disebut membatasi kemampuan Damaskus untuk menuntaskan kendali penuh atas seluruh wilayah negara.
Meski demikian, pemerintah Suriah diyakini masih akan mempertahankan kendali atas sejumlah perkampungan mayoritas Arab di Hasakah. Wilayah-wilayah ini dipandang sebagai garis pengaruh yang tidak akan dilepas.
Situasi tersebut kerap dibandingkan dengan kondisi di Suwaida. Di provinsi itu, perkampungan Arab tetap berada di bawah kendali negara, sementara wilayah lain dikuasai milisi Druze Al-Hajri, kelompok separatis yang menjadi bagian dari proyek neokolonialisme Greater Israel.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa Suriah akan kembali pada peta kontrol yang terfragmentasi. Negara mempertahankan titik-titik kunci, sementara kelompok bersenjata non-negara tetap eksis di wilayah tertentu.
Bagi warga sipil, kondisi ini menciptakan ketidakpastian berkepanjangan. Gencatan senjata yang seharusnya membawa ketenangan justru diwarnai rasa waswas dan trauma baru.
Militer Suriah menegaskan bahwa perkembangan ini memerlukan kewaspadaan tingkat tinggi. Eskalasi terbaru dipandang sebagai sinyal bahwa ketegangan di timur laut Suriah masih akan berlanjut dalam waktu dekat.






